Darussalam – Pertanyaan ini keluar sesaat setelah saya bertanya kepada
anak-anak kelas tentang satu hal: “Aina satastamir dirasah ba’da
Gontor?” memang saat itu saya ingin tahu apa keinginan anak-anak
andaikan mereka nanti lulus dari Gontor. Setelah setiap orang mengungkapkan
tujuannya; ada yang ke Madinah, Pakistan, Malaysia, Jepang, Jerman, dan lain sebagainya,
tiba-tiba seorang anak nyeletuk, “Kalau anti ke mana?” Tanya anak
itu. Agak kaget juga mendengarnya, menarik untuk menjawab pertanyaan polos dari
seorang temanku yang satu ini. Kemana saya akan lanjut? Dan kenapa saya
masih di Gontor?
Memang setiap
orang memiliki tujuan, pilihan dan porsi yang berbeda adanya. Tak bisa semua
disamakan, dan tidak bisa seseorang dari kita bilang bahwa pilihannya lebih
baik dari apa yang orang lain pilih. Belum tentu, itu relatif. Seperti seorang
laki-laki yang melihat wanita dari wajahnya, mungkin bagi sebagian lelaki
melihat wanita yang tinggi semampai itu cantik, ada juga yang bilang kalau wanita
yang mungil itu lebih imut, semua memang tergantung.
Kembali ke
pertanyaan awal, kenapa saya tidak melanjutkan di luar saja? Ini pertanyaan
yang agak sulit untuk dijawab, karena kalau saya bilang di Gontor lebih baik,
tentu teman-teman yang di luar pun akan mengejek saya yang masih di Gontor. Marilah
kita review dengan apa yang kita mau dan kita rasakan, terutama yang saya
rasakan selama 4 tahun menjadi santriwati di Gontor dan sharing saya bersama
teman-teman lain yang sudah hidup di luar dan merasakan indahnya masa-masa
sekolah di luar sana.
Jelas hal
pertama kali yang akan terlintas dibenak kita saat ditanya kenapa kamu masuk
Gontor adalah: pendidikan dan pengajarannya. Memang, tidak bisa dipungkiri,
kita sebagai alumni merasakan betul bagaimana pendidikan Gontor begitu punya
pengaruh yang dalam, efek yang sangat kuat tertanam di benak kita. Sehingga
gerakan yang kita lakukan, pekerjaan yang kita emban, cara penyelesaian yang
kita laksanakan, semuanya tak lepas dari unsur pendidikan yang kita alami
selama kita di Gontor.
Tapi, setelah
lulus Gontor, tak semua yang diminta mengabdi akan melanjutkan perjuangannya di
Gontor mengajar. Jelas tak semua orang suka terikat dengan satu hal, dan sudah
menjadi adat kita, bahwa kita ingin mencoba ‘tantangan’ dan ‘lingkungan’ yang
berbeda dengan apa yang kita rasakan di Gontor. Bosanlah kita kalau lama-lama
disini, kata beberapa kawan. Jawaban saya simple saja: “Hidup itu
pilihan,” dan saya memilih bertahan di Gontor, mengajar, mendidik, dan
merasakan indahnya berinteraksi dengan anak-anak, bertugas di pos-pos pondok,
dan menerima wejangan dan pengalaman yang lebih luas dari apa yang saya terima
selama jadi santri.
Contohnya,
seorang wali kelas di Gontor harus berperan sebagai ‘God of Study’ bagi
anak-anak mereka. Bagaimana tidak, mendidik anak, mengajari mereka dengan semua
pelajaran yang mereka punya, tentu menjadi tantangan tersendiri buat wali kelas
itu. Mereka harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan dari setiap pelajaran yang
anak pelajari, dan siap mengajari santrinya kalau mereka belum paham betul
dengan apa yang guru mereka ajarkan. Mulia mereka yang dengan ikhlas dan senang
hati mendidik anak-anaknya di pondok. Membimbing mereka untuk menuju jalan
sukses yang pernah kita lalui saat kita masih santri, mengarahkan mereka untuk
memiliki masa depan yang luar biasa, penuh dengan impian tinggi, dan harapan
besar.
Tapi Gontor
betul-betul membuka kesempatan dan pengalaman yang luas bagi kita untuk belajar
banyak hal, sekaligus memaksimalkan tenaga yang ada untuk mencapai kemandirian.
Pohon yang unggul sekalipun kalau berbuah belum tentu sempurna semua, pasti ada
yang kurang baik bukan? Semua kesalahan dan kelalaian yang ada dalam pekerjaan
kita adalah evaluasi untuk pengerjaan yang lebih baik nantinya, inilah salah
satu rahasia kemajuan Gontor yang pesat: evaluasi, perbaiki.
Juga tentang
kepondokmodernan. Satu hal ini yang menjadi perhatian saya dan menarik bagi
saya. Andaikan pondok adalah buah, yang selama ini kita rasakan dan dapatkan
selama jadi santri hanyalah kulitnya saja, belum isi. Isi yang manis, segar dan
enak baru akan terasa dan diberikan secara cuma-cuma lewat filsafat-filsafat
hidup yang didapat dari pengalaman, wejangan pimpinan, kumpul kemisan,
tugas-tugas, laporan-laporan, dan interaksi dengan guru-guru senior yang
benar-benar memberikan pencerahan yang terang benderang tentang apa yang harus
kita persiapkan saat kita hidup dalam dunia yang sebenarnya. Itulah sedikit
cerita dari Pondok, sekedar sekelumit saja.
Kita ingat
betul, ayahanda tercinta, bapak-bapak pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
selalu mengatakan hal ini: “Di dahi kalian tertulis PM (Pondok Modern)!,”
itulah tanggungjawab kita, tanggungjawab yang akan selalu kita emban seumur
hidup.
Semua
yang kita lihat, dengar dan rasakan adalah pendidikan, masih ingat? Pendidikan
Gontor yang total dan menyeluruh itulah yang membuat kita terus punya hubungan
kuat dengan teman-teman alumni, sahabat-sahabat di Pondok, dan almamater kita
pastinya, Pondok Modern Darussalam Gontor. Orang Gontor, berapapun jarak
kelulusannya, mau tua, muda, maupun yang baru lulus, akan selalu punya hubungan
dekat seakan-akan orang yang sudah kenal lama, bagaikan sahabat yang lama tak
berjumpa, walaupun mereka tak saling kenal. Tapi Gontor-lah yang menyatukan
kita, mengenalkan kita, menyamakan hal terpenting dalam diri manusia: Jiwa
Gontory.
Selalu ada
perasaan roman, rindu, melankolis, saat berpisah dari tanah Gontor, selalu.
Tanyalah siapapun yang sudah tak lagi berada di Gontor, mereka akan selalu
bercerita banyak tentang Gontor dan selalu menyatakan kerinduannya untuk
kembali ke pangkuan ibu, yang selalu kita lantunkan saat menyanyikan hymne
kebanggaan kita: Hymne Oh Pondokku, “Ibuku…..,”.