Sabtu, 21 November 2015

di sini atau di luar?

Darussalam – Pertanyaan ini keluar sesaat setelah saya bertanya kepada anak-anak kelas tentang satu hal: “Aina satastamir dirasah ba’da Gontor?” memang saat itu saya ingin tahu apa keinginan anak-anak andaikan mereka nanti lulus dari Gontor. Setelah setiap orang mengungkapkan tujuannya; ada yang ke Madinah, Pakistan, Malaysia, Jepang, Jerman, dan lain sebagainya, tiba-tiba seorang anak nyeletuk, “Kalau anti ke mana?” Tanya anak itu. Agak kaget juga mendengarnya, menarik untuk menjawab pertanyaan polos dari seorang temanku yang satu ini. Kemana saya akan lanjut? Dan kenapa saya masih di Gontor?
Memang setiap orang memiliki tujuan, pilihan dan porsi yang berbeda adanya. Tak bisa semua disamakan, dan tidak bisa seseorang dari kita bilang bahwa pilihannya lebih baik dari apa yang orang lain pilih. Belum tentu, itu relatif. Seperti seorang laki-laki yang melihat wanita dari wajahnya, mungkin bagi sebagian lelaki melihat wanita yang tinggi semampai itu cantik, ada juga yang bilang kalau wanita yang mungil itu lebih imut, semua memang tergantung.
Kembali ke pertanyaan awal, kenapa saya tidak melanjutkan di luar saja? Ini pertanyaan yang agak sulit untuk dijawab, karena kalau saya bilang di Gontor lebih baik, tentu teman-teman yang di luar pun akan mengejek saya yang masih di Gontor. Marilah kita review dengan apa yang kita mau dan kita rasakan, terutama yang saya rasakan selama 4 tahun menjadi santriwati di Gontor dan sharing saya bersama teman-teman lain yang sudah hidup di luar dan merasakan indahnya masa-masa sekolah di luar sana.
Jelas hal pertama kali yang akan terlintas dibenak kita saat ditanya kenapa kamu masuk Gontor adalah: pendidikan dan pengajarannya. Memang, tidak bisa dipungkiri, kita sebagai alumni merasakan betul bagaimana pendidikan Gontor begitu punya pengaruh yang dalam, efek yang sangat kuat tertanam di benak kita. Sehingga gerakan yang kita lakukan, pekerjaan yang kita emban, cara penyelesaian yang kita laksanakan, semuanya tak lepas dari unsur pendidikan yang kita alami selama kita di Gontor.
Tapi, setelah lulus Gontor, tak semua yang diminta mengabdi akan melanjutkan perjuangannya di Gontor mengajar. Jelas tak semua orang suka terikat dengan satu hal, dan sudah menjadi adat kita, bahwa kita ingin mencoba ‘tantangan’ dan ‘lingkungan’ yang berbeda dengan apa yang kita rasakan di Gontor. Bosanlah kita kalau lama-lama disini, kata beberapa kawan. Jawaban saya simple saja: “Hidup itu pilihan,” dan saya memilih bertahan di Gontor, mengajar, mendidik, dan merasakan indahnya berinteraksi dengan anak-anak, bertugas di pos-pos pondok, dan menerima wejangan dan pengalaman yang lebih luas dari apa yang saya terima selama jadi santri. 
Contohnya, seorang wali kelas di Gontor harus berperan sebagai ‘God of Study’ bagi anak-anak mereka. Bagaimana tidak, mendidik anak, mengajari mereka dengan semua pelajaran yang mereka punya, tentu menjadi tantangan tersendiri buat wali kelas itu. Mereka harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan dari setiap pelajaran yang anak pelajari, dan siap mengajari santrinya kalau mereka belum paham betul dengan apa yang guru mereka ajarkan. Mulia mereka yang dengan ikhlas dan senang hati mendidik anak-anaknya di pondok. Membimbing mereka untuk menuju jalan sukses yang pernah kita lalui saat kita masih santri, mengarahkan mereka untuk memiliki masa depan yang luar biasa, penuh dengan impian tinggi, dan harapan besar.
Tapi Gontor betul-betul membuka kesempatan dan pengalaman yang luas bagi kita untuk belajar banyak hal, sekaligus memaksimalkan tenaga yang ada untuk mencapai kemandirian. Pohon yang unggul sekalipun kalau berbuah belum tentu sempurna semua, pasti ada yang kurang baik bukan? Semua kesalahan dan kelalaian yang ada dalam pekerjaan kita adalah evaluasi untuk pengerjaan yang lebih baik nantinya, inilah salah satu rahasia kemajuan Gontor yang pesat: evaluasi, perbaiki.
Juga tentang kepondokmodernan. Satu hal ini yang menjadi perhatian saya dan menarik bagi saya. Andaikan pondok adalah buah, yang selama ini kita rasakan dan dapatkan selama jadi santri hanyalah kulitnya saja, belum isi. Isi yang manis, segar dan enak baru akan terasa dan diberikan secara cuma-cuma lewat filsafat-filsafat hidup yang didapat dari pengalaman, wejangan pimpinan, kumpul kemisan, tugas-tugas, laporan-laporan, dan interaksi dengan guru-guru senior yang benar-benar memberikan pencerahan yang terang benderang tentang apa yang harus kita persiapkan saat kita hidup dalam dunia yang sebenarnya. Itulah sedikit cerita dari Pondok, sekedar sekelumit saja.
Kita ingat betul, ayahanda tercinta, bapak-bapak pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor selalu mengatakan hal ini: “Di dahi kalian tertulis PM (Pondok Modern)!,” itulah tanggungjawab kita, tanggungjawab yang akan selalu kita emban seumur hidup.
 Semua yang kita lihat, dengar dan rasakan adalah pendidikan, masih ingat? Pendidikan Gontor yang total dan menyeluruh itulah yang membuat kita terus punya hubungan kuat dengan teman-teman alumni, sahabat-sahabat di Pondok, dan almamater kita pastinya, Pondok Modern Darussalam Gontor. Orang Gontor, berapapun jarak kelulusannya, mau tua, muda, maupun yang baru lulus, akan selalu punya hubungan dekat seakan-akan orang yang sudah kenal lama, bagaikan sahabat yang lama tak berjumpa, walaupun mereka tak saling kenal. Tapi Gontor-lah yang menyatukan kita, mengenalkan kita, menyamakan hal terpenting dalam diri manusia: Jiwa Gontory.
Selalu ada perasaan roman, rindu, melankolis, saat berpisah dari tanah Gontor, selalu. Tanyalah siapapun yang sudah tak lagi berada di Gontor, mereka akan selalu bercerita banyak tentang Gontor dan selalu menyatakan kerinduannya untuk kembali ke pangkuan ibu, yang selalu kita lantunkan saat menyanyikan hymne kebanggaan kita: Hymne Oh Pondokku, “Ibuku…..,”.