Rabu, 03 Februari 2016

TERNYATA DISINI INDAH #GONTOR




Kicauan burung dengan suara merdu sambil menari menikmati pagi, seakan sedang bernostalgia untuk menyambut hangatnya sang surya, suaranya menyapa, memberikan semangat tersendiri bagi jiwa-jiwa yang nyaman akan keindahan alam nusantara ini dan segala panorama yang ada, dimana kaki berpijak di bumi dengan segala isinya. Sebelum tapak kakiku menyentuh tanah di Darussalam ini, dulu dan sampai saat ini masih terngiang dan melekat sekelumit pesan yang orang tua titipkan kepadaku, “belajarlah dengan niat belajar”, ucapan ini persis yang telah di sampaikan pula oleh aktifis sejati baginda Rasul “utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”.Maka sampai detik ini pun aku mulai hari dengan niat sungguh belajar.

Universitas Darussalam, pertanyaan ini keluar sesaat setelah saya bertanya kepada anak-anak kelas, tentang satu hal pertanyaan yang biasa di perbincangkan ketika detik-detik akhir menjadi siswi akhir KMI. “Ilaa Aina satasta’mir dirasah ba’da Gontor?”, memang saat itu saya ingin tahu bagaimana jawaban mereka dan apa jawaban mereka setelah lulus dari Gontor. Setelah setiap orang mengungkapkan tujuan dan jawabannya; ada yang melanjutkan ke UGM, UMY, UNY, UMM, UI, ITB bahkan ada juga yang melanjutkan ke Madinah, Turki, Pakistan dan Mesir. Tiba-tiba teman saya nyeletuk, “kalau anti mau lanjut kemana?” tanya teman saya. Sedikit kaget juga saya mendengarnya, sangat menarik untuk menjawab pertanyaan polos seorang temanku yang satu ini. “kemana saya akan melanjutkan, setelah saya lulus dari Gontor?”Dan kenapa saya memilih untuk tetap di Gontor?”.

Memang, setiap orang berhak memiliki tujuan, serta pilihan porsi yang berbeda-beda. Tak bisa semua orang untuk disamakan persepsinya, dan tidak seseorang dari kita berkata bahwa pilihannya akan lebih baik daripada apa yang orang lain pilih. Itu belum tentu. Bisa diibaratkan seperti seorang laki-laki yang melihat wanita dari wajahnya, mungkin bagi sebagian lelaki melihat wanita yang tinggi semampai itu cantik, ada juga yang bilang kalau wanita yang mungil itu lebih imut, haha, semua memang tergantung dari persepsinya masing-masing.
Mari kita kembali ke pertanyaan awal, kenapa saya tidak melanjutkan di luar saja? Ini pertanyaan yang agak sulit untuk dijawab, karena jika saya bilang  memang di Gontor lebih baik, jika kita mereview dengan apa yang kita mau dan kita rasakan dari semua pendidikan Gontor yang telah mendidik kami dengan pendidikan lima pilar yang berjiwa keikhlasan, kesederhaan, berdikari, ukhuwah islamiyah dan kebebasan.
Dan sadar atau pun tidak sadar, saat ini aku adalah seorang Mahasiswi, dimana Orientasi seorang Mahasiswi itu, aku sendiri yang akan mencari dan menemukannya, walau saat ini aku berada dalam keadaan lingkungan yang masih berorientasi pesantren, tak lupa juga aku memikul tanggung jawab terhadap diri sendiri, orang tua, sosial dan yang paling besar adalah tanggung jawab terhadap pemilik diri. Karena orang tua hanyalah tau dan bangga akan anaknya sebagai mahasiswi. Aku melangkahkan kaki menuju ke kampus, yang dikatakan adalah kampus dengan berbasis pesantren, kampus dengan sistem mondok di asrama dan kampus perjuangan. Dahulu tak terlukiskan oleh benakku bagaimana indahnya kampus sebagai rumah sendiri, tempat berteduh kaum-kaum intelektual, ruang diskusi tanpa dibatasi oleh waktu tapi itu dulu, hari ini berbeda jauh dari apa yang aku dengar oleh senior, namun masih sangat tergambar dibenak ini dengan menimba cerita-cerita dari angkatan sebelumku yang masih berdomisili di lingkungan kampus ini.
Awal sebelum perkuliahan begitu jauh aktif, terbesit di pikiranku untuk ikut berorganisasi selain kuliah, pada saat itu sangatlah membosankan, dan waktu itu juga aku berikhtiar memilih satu organisasi extra, untuk menjadi satu ruang tersendiri bagiku untuk mengembangkan ke-intelektualan yang mungkin aku rasakan masih sangat dangkal untuk lebih di isi dan di kembangkan, dan ternyata yang aku rasakan didalamnya tidak hanyalah itu bahkan lebih, karena disitu juga banyak ilmu yang aku dapat diluar bangku kuliah, sebagaimana mahasiswa itu sebagai agent of controlagent of change, dan agent of social. Disini aku memulai melukis kegiatanku walau terkadang merasa cape, letih, lesu dan lain seabgainya, tapi inilah jalan yang harus di hadapi dengan niat kesungguhan maka hari ini adalah milikku.
 “ Saatnya kuliah “, terikku lantang membentur tembok bangunan.
hari yang menantangku, tepat pukul 08.00 WIB harus on time di dalam kelas karena dosen kali ini tak mengenal kompromi,hehe”,
“ Eits, dengungku”, memang dosen yang disiplin dan keilmuannya juga memang di perhitungkan daripada dosen-dosen yang lain, yang hanya sebagai fasilitator saja dalam kelas, kalau boleh mengandaikan, karena inilah yang terasa dan yang dirasakan.
“Ya, aku ikuti perkuliahan dengan seksama namun akhirnya bosan juga”.
Jarum jam menunjukkan Pukul 09.30 aku keluar bareng teman-temanku karena memang tak terasa satu mata kuliah telah rampung, bergegas aku menuju perpustakaan untuk mencari bahan diskusi pada malam nanti, diskusi bisa dikatakan adalah makanan keseharianku, karena ruang dialektika bukanlah hanya di dalam kelas saja, buktinya aku bersama sahabat-sahabatku se-organisasi bisa mewarnai ruang kelas dengan beradu argumen tantang keilmuan, karena ada atau tiada, dan sadar atau tidak sadar banyak teman-teman yang berada dalam kelas saat pelajaran dimulai berangkat dari ruang yang kosong, artinya hanya duduk manis dan menjadi pendengar aktif menerima segala argumentasi tanpa di sadari kebenarannya, padahal alangkah indahnya kelas bila di isi dengan suara-suara yang memang itu bisa menjadi bahan pertimbangan dengan cara berdialektika dan dari berbagai refrensi. Tidak percaya..? Check it out.
Saat langkah kakiku menuju ke perpustakaan, terdengar suara dari belakang”.
 “Nis...!!!” suara sapaan lembut untuk namaku, Annisa. Perlahan aku menoleh kebelakang dan ternyata yang manggil itu adalah salah satu sahabatku. Ya,namanya Salsabilla.
“what’s up Bil...??? Wihh,,,makin cerah aja muka kamu” jawabku dengan sedikit bahasa inggris karena dulu kita di pertemukan dalam kesukaan bahasa yang sama.
“iya nih, biasa lagi gubed-gubed ada gosip baru di kampus sambil aku tersenyum manis!! “Tidak kok Nis”,  jawabnya, aku hanya mau nitip surat izin buat Bu dosen Anita tercinta, aku mau jemput adikku di Magelang”, dengan riangnya dia menjalani hari dengan senyuman yang selalu mewarnai teman-taman termasuk aku, dia pun berlalu setelah memberikan surat izin kepadaku untuk kuliah nanti pukul 10.00.
Memang Salsabilla sudah seperti saudaraku disini, dia yang mengingatkanku bahwa dipelataran yang jauh dari tanah kelahiran dan keluargaku, yang seharusnya aku bisa hidup sesuka hati, bebas dan bersenang-senang tapi dia selalu bilang “apapun yang kamu lakukan, ingatlah orang tuamu, ingatlah siapa dirimu?!” Motivasi tersendiri yang sangat agung bagiku, dan masih ada sahabat-sahabat yang lain yang sudah seperti keluargaku sendiri disini yang juga setia menemani aku dalam kondisi apa pun.
Di perpustakaan aku dapatkan “aku berpikir, maka aku ada”, dari tokoh barat Rene Discarte, yang esensinya perlu di olah dalam diri pribadiku, aku tau bahwa aku mahasiswi tapi tidak semudah ini menurutku menjadi seorang mahasiswi, dimana-mana mahasiswi adalah pelajar di perguruan tinggi dan mendapat gelar S1 kala selesai, namun dibalik ini semua ada hal yang lebih besar yang perlu di pertanggung jawabkan terhadap lingkungan sosial dan khususnya diri sendiri, apakah itu.?! “uhftttt....!” inilah sirkulasi kehidupan yang memang penuh akan perjuangan.
Semilir angin disore hari menjemputku, membawa awan biru ke arah tanpa batas, memberikan satu arti bahwa alam bumi ini akan terus berputar dan tiada yang tahu kapan akan berhentinya dunia ini selain Sang Pencipta keindahan itu sendiri yang Maha tau.
Setelah sedikit menimba ilmu-Nya dengan berdiskusi, kaki ini kembali melangkah untuk sejenak merebahkan tubuh di kamar. Di perjalanan pulang ke kamar aku temui teman yang lagi dalam gundah gulana.
“Kenapa Rin, kamu kok kelihatan murung?” tanyaku kepada Ririn.
“Eh, tidak kok kak, nggak kenapa-kenapa..” jawab dia dengan sedikit kaget di raut wajahnya.
  “Ehmm, semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya dan kalau memang ada sesuatu yang ingin di omongin, bilang ajah Rin” ibahku melihat sesosok wanita yang berhati sutra.
“Iyaa kak, makasih yah, aku cuman lagi sedih aja tapi maaf ya kak, sekarang aku masih belum bisa cerita, mungkin besok-besok aja kalo hati ini udah tenang”, dengan senyum manisnya,  sedikit pintu kejelasan dari dia atas apa yang dirasakan dari wajah yang anggun menutupi kesedihannya.
 “Ya udah, aku ke kamar dulu Rin, baik-baik aja yah”, aku pamit ke kamar dengan ikut merasakan kesedihan itu walau pun belum jelas akan sebenarnya kesedihan itu.
Tanpa terpikir oleh para pujangga bahwa sesungguhnya hidup tidak hanya di hadapkan kepada individu saja, artinya hakikat hidup tidak bisa lepas dari Tuhan dan sosial, andaikan setiap insan itu ingat akan diri sendiri, keluarga, maupun kepada Pemilik hidup maka alangkah tentram hidup ini dengan warna-warni kehidupan yang di dambakan oleh seluruh manusia yang berinjak di bumi ini.
Pada malam harinya Ririn pun akhirnya datang ke kamarku, dia bercerita tentang apa yang sedang dia alami,
“kamu kenapa Rin?”, tanyaku.
“Kak, sebenarnya aku masih ingin tetap melanjutkan kuliah disini, akan tetapi kedua orang tuaku menyuruhku untuk keluar dan pindah ke universitas yang lain, orang tuaku ingin aku menjadi Dokter, agar aku bisa meneruskan Profesi Ayahku sebagai seorang Dokter.” Ucap Ririn kepadaku.
“Yah jika memang itu pilihan kedua orang tuamu, kamu harus menuruti keinginan mereka Rin, apalagi itu keinginan terbesar Ayahmu, lakukanlah apa yang diinginkan oleh mereka selagi mereka masih ada Rin...”
“Hidup itu pilihan”, Memang selalu ada hal menarik dan tantangan baru pastinya saat kita hidup diluar. Meskipun tak ada lagi ikatan disiplin, tugas, pengawasan seperti yang dirasakan di Pondok, tapi bukan berarti di luar bebas sebebas-bebasnya. Batasan kita adalah tanggung jawab kita, yang kita latih selama di Gontor. Tanggung jawab dalam pendidikan, tanggung jawab terhadap hak yang sudah kita miliki, tanggung jawab kepada orang yang sudah banyak berkorban dan memberikan segalanya untuk hidup kita hingga saat ini.
Orangtua yang mendorong kita, memaksa kita, men-support kita untuk terus maju dan melanjutkan kehidupan di Pondok yang tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Mungkin, lebih banyak tak sesuainya malah, hehehe. Tapi karena merekalah, kita merasakan manisnya, nikmatnya mendapatkan semua pengalaman hebat, persahabatan erat, dan persatuan yang kuat di Gontor. Dan semua pendidikan yang kita genggam dan cicipi, baik kurang dan lebihnya, menjadi pondasi dan dasar yang luarbiasa bagi kehidupan teman-teman di luar.

Terkadang ada beberapa dari kita yang lupa dengan tujuan hidup, terlena dengan yang ada diluar, dan akhirnya bertingkah laku negatif dan kurang punya pandangan baik di mata orang lain. Memang itulah anak Gontor, berbeda-beda, penuh warna.
Namun tak sedikit mereka yang sudah berjuang di luar, memiliki banyak prestasi yang membanggakan, baik yang tua maupun yang muda. Tak perlu saya ceritakan prestasi yang tua, karena mereka sudah menjadi legenda bagi kita, bagi para alumni baru yang selalu mendengarkan cerita kehebatan dan sepak terjang para alumni terdahulu baik skala nasional maupun internasional. Dan dibalik itu, banyak pula mereka yang muda berprestasi di banyak tempat dan sisi. Baik mereka yang masih mahasiswa maupun yang sudah bekerja dan berkeluarga. Contoh saja: seperti Pak Din Syamsuddin yang kini aktif di dunia politik, ada juga Tsani Liziah, Da’iah muda asal Jawa Barat sekaligus penulis buku “Lentera Surga”, ada juga Ahmad Fuadi penulis novel “Negeri Lima Menara & Ranah tiga Warna” dan ada juga yang menjadi utusan kampusnya untuk dikirim ke luar negeri, Australia, Jepang, dan negeri lain. Ah, luar biasanya anak Gontor.
Bukan bermaksud untuk takabbur ataupun riya’, akan tetapi saya hanya ingin mengungkapkan betapa kita, tidak pernah kehabisan potensi dan bakat untuk dikembangkan. Kita mengenal hal-hal dasar di Gontor, dan mengembangkannya saat diluar. Dan hasilnya ternyata tak kalah dengan mereka yang diluar. Di Gontor, segala sisi mampu kita kembangkan, meski hanya sekedar dasar saja. Tapi jiwa kemandirian kitalah yang mampu membuat kita yakin dengan kemampuan sendiri, dan jiwa bangga terhadap hasil kerja kita yang ditanamkan selama kita santri yang membuat kita menjadi orang-orang yang bermental kuat dan beretos kerja baik. Gontor yang membentuk kita, Gontor juga yang membentuk karakter bagaimana mental kita. 
Kita ingat betul, ayahanda tercinta, bapak-bapak pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor selalu mengatakan hal ini: “Di dahi kalian tertulis PM (Pondok Modern)!,” itulah tanggung jawab kita, tanggung jawab yang akan selalu kita emban seumur hidup.
 Semua yang kita lihat, dengar dan rasakan adalah pendidikan, masih ingat? Pendidikan Gontor yang total dan menyeluruh itulah yang membuat kita terus punya hubungan kuat dengan teman-teman alumni, sahabat-sahabat di Pondok, dan almamater kita pastinya, Pondok Modern Darussalam Gontor. Orang Gontor, berapapun jarak kelulusannya, mau tua, muda, maupun yang baru lulus, akan selalu punya hubungan dekat seakan-akan orang yang sudah kenal lama, bagaikan sahabat yang lama tak berjumpa, walaupun mereka tak saling kenal. Tapi Gontor-lah yang menyatukan kita, mengenalkan kita, menyamakan hal terpenting dalam diri manusia, itulah yang dinamakanJiwa Gontory.

Memang, selalu ada perasaan rindu, melankolis, saat berpisah dari tanah Gontor, selalu. Tanyalah siapapun yang sudah tak lagi berada di Gontor, mereka akan selalu bercerita banyak tentang Gontor dan selalu menyatakan kerinduannya untuk kembali ke pangkuan ibu, yang selalu kita lantunkan saat menyanyikan hymne kebanggaan kita: Hymne Oh Pondokku, “Ibuku…..,”.
Sebuah impian yang harus diraih dengan kekuatan bersama jihad di jalan Allah dengan kekuatan do’a. Saat ini adalah perjuangan kita untuk menuntut ilmu, tapi ingatlah perjuangan tidak cukup sampai disini, peperangan tak akan pernah berakhir, hingga akhir hidup ini. Manis dan pahit kehidupan telah menanti, siapkan diri untuk menghadapinya dengan sebuah perjuangan yang sesungguhnya.

 Akhirnya, pilihan ada di tangan kita sendiri. Seperti yang saya sebutkan di awal, “Hidup itu pilihan!” tak ada yang paling baik, yang ada adalah yang paling sesuai dengan diri kita, right? Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tinggal kita yang tentukan, biar Gontor jadi cerita terhebat yang pernah kita rasakan dan dapatkan dalam kehidupan kita. Selamanya. Gontor is not just school, it’s home, it’s story and it’s HISTORY.