Kicauan burung dengan suara merdu sambil menari menikmati pagi, seakan
sedang bernostalgia untuk menyambut hangatnya sang surya, suaranya menyapa,
memberikan semangat tersendiri bagi jiwa-jiwa yang nyaman akan keindahan alam nusantara
ini dan segala panorama yang ada, dimana kaki berpijak di bumi dengan segala
isinya. Sebelum tapak kakiku menyentuh tanah di Darussalam ini, dulu dan
sampai saat ini masih terngiang dan melekat sekelumit pesan yang orang tua
titipkan kepadaku, “belajarlah dengan niat belajar”, ucapan ini persis
yang telah di sampaikan pula oleh aktifis sejati baginda Rasul “utlubul
ilma minal mahdi ilal lahdi”.Maka sampai detik ini pun aku mulai
hari dengan niat sungguh belajar.
Universitas Darussalam, pertanyaan ini keluar sesaat setelah saya
bertanya kepada anak-anak kelas, tentang satu hal pertanyaan yang biasa di
perbincangkan ketika detik-detik akhir menjadi siswi akhir KMI. “Ilaa Aina
satasta’mir dirasah ba’da Gontor?”, memang saat itu saya ingin tahu bagaimana
jawaban mereka dan apa jawaban mereka setelah lulus dari Gontor. Setelah setiap
orang mengungkapkan tujuan dan jawabannya; ada yang melanjutkan ke UGM, UMY,
UNY, UMM, UI, ITB bahkan ada juga yang melanjutkan ke Madinah, Turki, Pakistan
dan Mesir. Tiba-tiba teman saya nyeletuk, “kalau anti mau lanjut kemana?”
tanya teman saya. Sedikit kaget juga saya mendengarnya, sangat menarik untuk
menjawab pertanyaan polos seorang temanku yang satu ini. “kemana saya akan
melanjutkan, setelah saya lulus dari Gontor?”Dan kenapa saya memilih untuk
tetap di Gontor?”.
Memang, setiap orang berhak memiliki tujuan, serta pilihan porsi
yang berbeda-beda. Tak bisa semua orang untuk disamakan persepsinya, dan tidak
seseorang dari kita berkata bahwa pilihannya akan lebih baik daripada apa yang
orang lain pilih. Itu belum tentu. Bisa diibaratkan seperti seorang laki-laki yang
melihat wanita dari wajahnya, mungkin bagi sebagian lelaki melihat wanita yang
tinggi semampai itu cantik, ada juga yang bilang kalau wanita yang mungil itu
lebih imut, haha, semua memang tergantung dari persepsinya
masing-masing.
Mari kita kembali ke pertanyaan awal, kenapa saya tidak melanjutkan
di luar saja? Ini pertanyaan yang agak sulit untuk dijawab, karena jika saya
bilang memang di Gontor lebih baik, jika
kita mereview dengan apa yang kita mau dan kita rasakan dari semua pendidikan
Gontor yang telah mendidik kami dengan pendidikan lima pilar yang berjiwa
keikhlasan, kesederhaan, berdikari, ukhuwah islamiyah dan kebebasan.
Dan sadar atau pun tidak sadar, saat ini aku adalah seorang
Mahasiswi, dimana Orientasi seorang Mahasiswi itu, aku sendiri yang akan
mencari dan menemukannya, walau saat ini aku berada dalam keadaan lingkungan
yang masih berorientasi pesantren, tak lupa juga aku memikul tanggung jawab
terhadap diri sendiri, orang tua, sosial dan yang paling besar adalah tanggung
jawab terhadap pemilik diri. Karena orang tua hanyalah tau dan bangga akan
anaknya sebagai mahasiswi. Aku melangkahkan kaki menuju ke kampus, yang
dikatakan adalah kampus dengan berbasis pesantren, kampus dengan sistem mondok
di asrama dan kampus perjuangan. Dahulu tak terlukiskan oleh benakku bagaimana
indahnya kampus sebagai rumah sendiri, tempat berteduh kaum-kaum intelektual,
ruang diskusi tanpa dibatasi oleh waktu tapi itu dulu, hari ini berbeda jauh
dari apa yang aku dengar oleh senior, namun masih sangat tergambar dibenak ini
dengan menimba cerita-cerita dari angkatan sebelumku yang masih berdomisili di
lingkungan kampus ini.
Awal sebelum perkuliahan begitu jauh aktif, terbesit
di pikiranku untuk ikut berorganisasi selain kuliah, pada saat itu
sangatlah membosankan,
dan waktu itu juga aku berikhtiar memilih satu
organisasi extra, untuk menjadi satu ruang tersendiri bagiku untuk
mengembangkan ke-intelektualan yang mungkin aku rasakan masih sangat dangkal
untuk lebih di isi dan di kembangkan, dan ternyata yang aku rasakan didalamnya
tidak hanyalah itu bahkan lebih, karena disitu juga banyak ilmu yang
aku dapat diluar bangku kuliah, sebagaimana mahasiswa itu sebagai agent
of control, agent of change, dan agent of social.
Disini aku memulai melukis kegiatanku walau terkadang merasa cape, letih, lesu
dan lain seabgainya, tapi inilah jalan yang harus di hadapi dengan niat
kesungguhan maka hari ini adalah milikku.
“ Saatnya kuliah “, terikku lantang membentur
tembok bangunan.
hari yang menantangku, tepat pukul 08.00 WIB
harus on time di dalam kelas karena dosen kali ini tak
mengenal kompromi,hehe”,
“ Eits, dengungku”, memang dosen yang disiplin dan
keilmuannya juga memang di perhitungkan daripada dosen-dosen yang lain, yang
hanya sebagai fasilitator saja dalam kelas, kalau boleh
mengandaikan, karena inilah yang terasa dan yang dirasakan.
“Ya, aku ikuti perkuliahan dengan seksama namun
akhirnya bosan juga”.
Jarum jam menunjukkan Pukul 09.30 aku keluar bareng
teman-temanku karena memang tak terasa satu mata kuliah telah rampung, bergegas
aku menuju perpustakaan untuk mencari bahan diskusi pada malam nanti, diskusi
bisa dikatakan adalah makanan keseharianku, karena ruang dialektika bukanlah
hanya di dalam kelas saja, buktinya aku bersama sahabat-sahabatku
se-organisasi bisa mewarnai ruang kelas dengan beradu argumen tantang
keilmuan, karena ada atau tiada, dan sadar atau tidak sadar banyak
teman-teman yang berada dalam kelas saat pelajaran dimulai berangkat
dari ruang yang kosong, artinya hanya duduk manis dan menjadi pendengar aktif
menerima segala argumentasi tanpa di sadari kebenarannya, padahal alangkah
indahnya kelas bila di isi dengan suara-suara yang memang itu bisa menjadi
bahan pertimbangan dengan cara berdialektika dan dari berbagai refrensi. Tidak
percaya..? Check it out.
Saat langkah kakiku menuju ke perpustakaan, terdengar suara
dari belakang”.
“Nis...!!!” suara sapaan lembut untuk namaku,
Annisa. Perlahan aku menoleh kebelakang dan ternyata yang manggil
itu adalah salah satu sahabatku. Ya,namanya Salsabilla.
“what’s up Bil...??? Wihh,,,makin cerah aja muka kamu” jawabku
dengan sedikit bahasa inggris karena dulu kita di pertemukan dalam kesukaan
bahasa yang sama.
“iya nih, biasa lagi gubed-gubed ada gosip baru di
kampus sambil aku tersenyum manis!! “Tidak kok Nis”, jawabnya,
aku hanya mau nitip surat izin buat Bu dosen Anita tercinta, aku mau
jemput adikku di Magelang”, dengan riangnya dia menjalani hari dengan
senyuman yang selalu mewarnai teman-taman termasuk aku, dia pun
berlalu setelah memberikan surat izin kepadaku untuk kuliah nanti pukul 10.00.
Memang Salsabilla sudah seperti saudaraku disini, dia yang
mengingatkanku bahwa dipelataran yang jauh dari tanah kelahiran dan
keluargaku, yang seharusnya aku bisa hidup sesuka hati, bebas dan
bersenang-senang tapi dia selalu bilang “apapun yang kamu lakukan, ingatlah
orang tuamu, ingatlah siapa dirimu?!” Motivasi tersendiri yang
sangat agung bagiku, dan masih ada sahabat-sahabat yang lain yang sudah
seperti keluargaku sendiri disini yang juga setia menemani aku dalam kondisi
apa pun.
Di perpustakaan aku dapatkan “aku berpikir, maka aku
ada”, dari tokoh barat Rene Discarte, yang esensinya perlu di
olah dalam diri pribadiku, aku tau bahwa aku mahasiswi tapi tidak semudah
ini menurutku menjadi seorang mahasiswi, dimana-mana mahasiswi adalah pelajar
di perguruan tinggi dan mendapat gelar S1 kala selesai, namun dibalik ini semua
ada hal yang lebih besar yang perlu di pertanggung jawabkan terhadap lingkungan
sosial dan khususnya diri sendiri, apakah
itu.?! “uhftttt....!” inilah sirkulasi kehidupan yang memang
penuh akan perjuangan.
Semilir angin disore hari menjemputku, membawa awan biru ke arah
tanpa batas, memberikan satu arti bahwa alam bumi ini akan terus berputar dan
tiada yang tahu kapan akan berhentinya dunia ini selain Sang Pencipta keindahan
itu sendiri yang Maha tau.
Setelah sedikit menimba ilmu-Nya dengan berdiskusi, kaki ini
kembali melangkah untuk sejenak merebahkan tubuh di kamar. Di perjalanan pulang
ke kamar aku temui teman yang lagi dalam gundah gulana.
“Kenapa Rin, kamu kok kelihatan murung?” tanyaku kepada Ririn.
“Eh, tidak kok kak, nggak kenapa-kenapa..” jawab dia dengan sedikit
kaget di raut wajahnya.
“Ehmm, semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya dan kalau
memang ada sesuatu yang ingin di omongin, bilang ajah Rin” ibahku melihat
sesosok wanita yang berhati sutra.
“Iyaa kak, makasih yah, aku cuman lagi sedih aja tapi maaf ya kak,
sekarang aku masih belum bisa cerita, mungkin besok-besok aja kalo hati ini
udah tenang”, dengan senyum manisnya, sedikit pintu kejelasan dari
dia atas apa yang dirasakan dari wajah yang anggun menutupi kesedihannya.
“Ya udah, aku ke kamar dulu Rin, baik-baik aja yah”, aku
pamit ke kamar dengan ikut merasakan kesedihan itu walau pun belum jelas akan
sebenarnya kesedihan itu.
Tanpa terpikir oleh para pujangga bahwa sesungguhnya hidup tidak
hanya di hadapkan kepada individu saja, artinya hakikat hidup tidak bisa
lepas dari Tuhan dan sosial, andaikan setiap insan itu ingat akan
diri sendiri, keluarga, maupun kepada Pemilik hidup maka alangkah tentram hidup
ini dengan warna-warni kehidupan yang di dambakan oleh seluruh manusia
yang berinjak di bumi ini.
Pada malam harinya Ririn pun akhirnya datang ke kamarku, dia
bercerita tentang apa yang sedang dia alami,
“kamu kenapa Rin?”, tanyaku.
“Kak, sebenarnya aku masih ingin tetap melanjutkan kuliah disini,
akan tetapi kedua orang tuaku menyuruhku untuk keluar dan pindah ke universitas
yang lain, orang tuaku ingin aku menjadi Dokter, agar aku bisa meneruskan
Profesi Ayahku sebagai seorang Dokter.” Ucap Ririn kepadaku.
“Yah jika memang itu pilihan kedua orang tuamu, kamu harus menuruti
keinginan mereka Rin, apalagi itu keinginan terbesar Ayahmu, lakukanlah apa
yang diinginkan oleh mereka selagi mereka masih ada Rin...”
“Hidup itu pilihan”, Memang selalu
ada hal menarik dan tantangan baru pastinya saat kita hidup diluar. Meskipun
tak ada lagi ikatan disiplin, tugas, pengawasan seperti yang dirasakan di
Pondok, tapi bukan berarti di luar bebas sebebas-bebasnya. Batasan kita adalah
tanggung jawab kita, yang kita latih selama di Gontor. Tanggung jawab dalam
pendidikan, tanggung jawab terhadap hak yang sudah kita miliki, tanggung jawab
kepada orang yang sudah banyak berkorban dan memberikan segalanya untuk hidup
kita hingga saat ini.
Orangtua yang mendorong kita, memaksa kita, men-support kita untuk
terus maju dan melanjutkan kehidupan di Pondok yang tak selalu sesuai dengan
keinginan kita. Mungkin, lebih banyak tak sesuainya malah, hehehe.
Tapi karena merekalah, kita merasakan manisnya, nikmatnya mendapatkan semua
pengalaman hebat, persahabatan erat, dan persatuan yang kuat di Gontor. Dan
semua pendidikan yang kita genggam dan cicipi, baik kurang dan lebihnya,
menjadi pondasi dan dasar yang luarbiasa bagi kehidupan teman-teman di luar.
Terkadang ada beberapa dari kita yang lupa dengan tujuan hidup,
terlena dengan yang ada diluar, dan akhirnya bertingkah laku negatif dan kurang
punya pandangan baik di mata orang lain. Memang itulah anak Gontor,
berbeda-beda, penuh warna.
Namun tak sedikit mereka yang sudah berjuang di luar, memiliki
banyak prestasi yang membanggakan, baik yang tua maupun yang muda. Tak perlu
saya ceritakan prestasi yang tua, karena mereka sudah menjadi legenda bagi
kita, bagi para alumni baru yang selalu mendengarkan cerita kehebatan dan sepak
terjang para alumni terdahulu baik skala nasional maupun internasional. Dan
dibalik itu, banyak pula mereka yang muda berprestasi di banyak tempat dan
sisi. Baik mereka yang masih mahasiswa maupun yang sudah bekerja dan
berkeluarga. Contoh saja: seperti Pak Din Syamsuddin yang kini aktif di dunia
politik, ada juga Tsani Liziah, Da’iah muda asal Jawa Barat sekaligus penulis
buku “Lentera Surga”, ada juga Ahmad Fuadi penulis novel “Negeri Lima
Menara & Ranah tiga Warna” dan ada juga yang menjadi utusan kampusnya
untuk dikirim ke luar negeri, Australia, Jepang, dan negeri lain. Ah, luar
biasanya anak Gontor.
Bukan bermaksud untuk takabbur ataupun riya’, akan tetapi saya
hanya ingin mengungkapkan betapa kita, tidak pernah kehabisan potensi dan bakat
untuk dikembangkan. Kita mengenal hal-hal dasar di Gontor, dan mengembangkannya
saat diluar. Dan hasilnya ternyata tak kalah dengan mereka yang diluar. Di
Gontor, segala sisi mampu kita kembangkan, meski hanya sekedar dasar saja. Tapi
jiwa kemandirian kitalah yang mampu membuat kita yakin dengan kemampuan
sendiri, dan jiwa bangga terhadap hasil kerja kita yang ditanamkan selama kita
santri yang membuat kita menjadi orang-orang yang bermental kuat dan beretos
kerja baik. Gontor yang membentuk kita, Gontor juga yang membentuk karakter
bagaimana mental kita.
Kita ingat betul, ayahanda tercinta, bapak-bapak pimpinan Pondok
Modern Darussalam Gontor selalu mengatakan hal ini: “Di dahi kalian tertulis
PM (Pondok Modern)!,” itulah tanggung jawab kita, tanggung jawab yang akan
selalu kita emban seumur hidup.
Semua yang kita lihat, dengar dan rasakan adalah pendidikan,
masih ingat? Pendidikan Gontor yang total dan menyeluruh itulah yang membuat
kita terus punya hubungan kuat dengan teman-teman alumni, sahabat-sahabat di
Pondok, dan almamater kita pastinya, Pondok Modern Darussalam Gontor. Orang
Gontor, berapapun jarak kelulusannya, mau tua, muda, maupun yang baru lulus,
akan selalu punya hubungan dekat seakan-akan orang yang sudah kenal lama,
bagaikan sahabat yang lama tak berjumpa, walaupun mereka tak saling kenal. Tapi
Gontor-lah yang menyatukan kita, mengenalkan kita, menyamakan hal terpenting
dalam diri manusia, itulah yang dinamakanJiwa Gontory.
Memang, selalu ada perasaan rindu, melankolis, saat berpisah dari tanah
Gontor, selalu. Tanyalah siapapun yang sudah tak lagi berada di Gontor, mereka
akan selalu bercerita banyak tentang Gontor dan selalu menyatakan kerinduannya
untuk kembali ke pangkuan ibu, yang selalu kita lantunkan saat menyanyikan
hymne kebanggaan kita: Hymne Oh Pondokku, “Ibuku…..,”.
Sebuah impian yang harus diraih dengan kekuatan bersama jihad di
jalan Allah dengan kekuatan do’a. Saat ini adalah perjuangan kita untuk
menuntut ilmu, tapi ingatlah perjuangan tidak cukup sampai disini, peperangan
tak akan pernah berakhir, hingga akhir hidup ini. Manis dan pahit kehidupan
telah menanti, siapkan diri untuk menghadapinya dengan sebuah perjuangan yang
sesungguhnya.
Akhirnya, pilihan ada di tangan kita sendiri. Seperti yang
saya sebutkan di awal, “Hidup itu pilihan!” tak ada yang paling baik, yang ada
adalah yang paling sesuai dengan diri kita, right? Semua punya
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tinggal kita yang tentukan, biar Gontor
jadi cerita terhebat yang pernah kita rasakan dan dapatkan dalam kehidupan
kita. Selamanya. Gontor is not just school, it’s home, it’s story and it’s
HISTORY. 
